Pattimura
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
- Untuk Kapitan Pattimura sebagai nama kapal laut TNI dengan nomor lambung 371, lihat KRI Kapitan Patimura
| Keseluruhan atau sebagian dari artikel ini membutuhkan perhatian dari ahli subyek terkait. Jika Anda adalah ahli yang dapat membantu, silakan membantuperbaiki kualitas artikel ini. |
| Thomas Matulessy Pattimura | |
|---|---|
![]()
Pattimura dari Uang Rupiah Pecahan Seribu
| |
| Julukan | Pattimura |
| Lahir | 08 Juni 1783 |
| Meninggal | 16 Desember 1817 (umur 34) |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | |
| Pangkat | Sersan Mayor |
| Perang | Perang Pattimura |
| Penghargaan | Pahlawan Nasional Indonesia(diterima 6 November 1973) |
Pattimura(atau Thomas Matulessy) (lahir di Haria, pulau Saparua,Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimuraadalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia.
Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".
Namun berbeda dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia mengatakan dalam bukunya Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali. Namanya kini diabadikan untuk Universitas Pattimuradan Bandar Udara Pattimura di Ambon.
Daftar isi
[sembunyikan]Istilah Kapitan[sunting | sunting sumber]
Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.
Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara atas saran abdul gafur, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.
Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar